Pages

Sunday, November 29, 2009

Mukjizat Nabi Uzair a.s.

Allah s.w.t berfirman:

"Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: 'Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?', maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: 'Berapa lama kamu tinggal di sini ?' Ia menjawab: 'Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.' Allah berfirman: 'Sebenarnya kamu tinggal di sini selama seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum berubah; dan lihatlah kepada keledaimu itu (yang telah menjadi tulang-belulang): Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang- belulang keldai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.' Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: 'Saya yakin bahawa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.'" (QS. al-Baqarah: 259)

Yang popular menurut kaum salaf dan kaum khalaf bahawa Uzair adalah pahlawan dalam kisah ini yang diceritakan oleh Allah s.w.t. Dikatakan bahawa Uzair adalah seorang Nabi dari nabi-nabi Bani Israil. Dia-lah yang menjaga Taurat, lalu terjadilah peristiwa yang sangat mengagumkan padanya. Allah s.w.t telah mematikannya selama seratus tahun kemudian ia dibangkitkan kembali. Selama Uzair tidur satu abad penuh, terjadilah peperangan yang didalangi oleh Bakhtansir di mana ia membakar Taurat. Tidak ada sesuatu pun yang tersisa kecuali yang dijaga oleh kaum lelaki. Mukjizat yang terjadi pada Nabi Uzair adalah sumber fitnah yang luar biasa di tengah kaumnya.



Seterusnya...

Saturday, November 28, 2009

Episode At Ghadir Khums













Eid-E-Ghadir -18th Zilhajj

On 18th Zilhajjah of the year 10 A.H. (10 March 632 CE), After completing the last pilgrimage the Holy Prophet(S.A.W.) along with the Muslims set out of Makkah. On their way back the Muslims reached a place called Ghadir-e-khumm. The following verse was revealed to the Holy Prophet(S.A.W.): "O Apostle! Deliver what has been sent down to you from your Lord; and if you don't do it, you have not delivered His message (at all); and Allah will protect you from the people ..." (Quran 5:67)

Delivery of the sermon:

On receiving the above verse, the Holy Prophet stopped at that very place called Ghadir-e-khumm.

The following is a part of the lengthy speech of the Holy Prophet (S.A.W.) which has also been narrated by all the muslim authorities repeatedly:

"It seems the time has approached when I shall be called away (by Allah) and I shall answer that call. I am leaving for you two precious things and if you adhere to them both, you will never go astray after me. They are the Book of Allah and my Progeny, that is my Ahlul Bayt. The two shall never separate from each other until they come to me by the Pool (of Paradise)." Read More

Cahaya Eidul Ghadir Khum
Hari Raya Al-Ghadir adalah merayakan keturunan Nabi Muhammad saw. Inilah hari raya terbesar dalam sejarah Islam. Inilah perayaan teristimewa yang dipersembahkan Tuhan, yang disebut oleh para penghuni langit dengan “Hari perjanjian yang jelas”. Inilah hari kebahagiaan dan kerelaan kerana adanya kasih-sayang, yang dengannya Tuhan menyempurnakan agamanya.



Riwayat dari Zaid bin Arqam
Teks Pidato Ghadir Khum

"Ketika Rasulullah saw kembali dari haji wada', beliau turun ke tepi wadi Khum, kemudian beliau bersabda,

"Sepertinya ada yang memanggilku dan aku menjawabnya. Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian dua perkara, salah satunya adalah yang lebih agung dari yang lainnya. Yaitu, Kitabullah dan yang lain adalah keturunan, Ahlulbaitku. Perhatikanlah, bagaimana kalian berani menentangku dengan berpaling dari kedua hal tersebut. Keduanya tidak akan berpisah satu sama lainnya". wikipedia.org




















Sunday, November 22, 2009

Nabi Sulaiman as













__________________________________________












Burung Hud Hud


Queen of Sheba, Part 1
بلقيس: ملكة سبأ (اليمن) وماحولها









Madinah Al Munawwarah



Arafat عرفات





Hikmah Mabit di Muzdalifah

Saturday, November 21, 2009

Ayatollah Modarresi vs. Top Wahhabi Cleric













This is a speech being delivered by Ayatollah Modarresi at the shrine of Imam Hussein in response to the slanderous comment made by the top Wahhabi cleric in Saudi Arabia.. Keep watching to see the...

Wednesday, November 18, 2009

Kecintaan Kepada Allah SWT

Kecintaan Kepada Allah SWT hanya mampu dicapai dengan menghilangkan kecintaan kepada selain-Nya. Itulah yang terjadi kepada Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah. Setelah mencintai Allah SWT, dia tidak mencintai sesiapa pun.

Hasan Al-Bashri, suatu ketika, datang melamar Rabi'ah, tetapi Rab'ah menolaknya dengan cara yang sangat halus. Beliau seakan-akan berkata, "Dalam hatiku sudah ada cinta kepada Allah SWT; Tidak tersisa lagi untuk mencintai manusia."

Waktu itu Rabi'ah menolak dengan mengajukan sebuah tesis. Ia bertanya kepada Hasan Al-Bashri, "Menurut pendapat anda, berapa % kah nafsu perempuan dibandingkan dengan nafsu lelaki?"

Hasan Al-Bashri menjawab. "Sembilan puluh % nafsu perempuan dan sepuluh % nafsu lelaki."

Rabi'ah melanjutkan, "Berapa perbandingan akal perempuan dan akal lelaki?"

Hasan menjawab, "Sepuluh % akal perempuan dan sembilan puluh % akal lelaki."

Lalu Rabi'ah berkata. "Mengapa saya yang memiliki sepuluh % akal dapat mengawal sembilan puluh % nafsuku, sementara sembilan puluh % akalmu tidak dapat mengawal sepuluh % nafsumu?"

Dengan perasaan yang sedih, Hasan Al-Bashri pun meninggalkan Rabi'ah.

Ada seorang yang datang menanya kepada Rabi'ah, "Mengapa kamu menolak pinangan Hasan Al-Bashri?"

Rabi'ah menjawab, "Kerana di dalam hatiku hanya ada kecintaan kepada Tuhan; Tidak ada lagi tempat untuk mencintai sesama manusia."

Orang itu bertanya lagi, "Apakah kamu mencintai Rasulullah SAWW yang juga seorang manusia?"

Rabi'ah menjawab, "Kecintaanku kepada Allah SWT tidak menyisakan tempat untuk mencintai manusia."

Dalam Sahih Bukhari-Muslim, sebuah hadis yang menyatakan bahawa Rasulullah SAWW bersabda, "Kamu belum beriman sebelum Allah SWT dan Rasul-Nya lebih kamu citai daripada selain keduanya."

Turmudzi pula meriwayatkan bahwa Rasulullah Sbersabda, "Cintailah Allah kerana nikmat yang dianugerahkan-Nya kepadamu, cintailah aku kerana kecintaanmu kepada Allah SWT. Dan cintailah keluargaku kerana kecintaamu kepadaku."




Tuesday, November 17, 2009

25 Wasiat Nabi SAW- Etika Hubungan Suami Isteri


Hubungan suami-isteri tidak hanya berdampak psikologis pada suami dan isteri, tetapi juga akan berdampak pada mental anak. Jika hubungan tersebut membuahkan keturunan. Karena itu, begitu pentingnya hal ini Rasulullah saw berwasiat kepada manantunya Imam Ali bin Abi Thalib (sa).

LARANGAN
Misalnya, Rasulullah saw melarang melakukan hubungan suami-isteri:
1. Pada awal bulan, tengah bulan, dan akhir bulan, karena hal itu mempercepat datangnya penyakit gila, kusta, dan kerusakan syaraf padanya dan keturunannya.
2. Sambil membayangkan perempuan lain. Karena jika membuahkan dikaruniai anak dapat menyebabkan ia memiliki mental seperti wanita itu dan memiliki gangguan psikologis.
3. Pada akhir bulan Hijriyah. Karena jika hubungan itu membuahkan anak dapat menyebabkan ia bermintal suka bekerjasama dan menolong orang yang zalim, dan menjadi perusak persatuan kaum muslimin. Akhir bulan Hijriyah (tgl 29 atau 30 hijriyah) dalam fiqih yg bersumber dari Ahlul bait Nabi saw disebut sebagai hari Mahaq, makruh hukumnya melangsungkan akad nikah.

ANJURAN

Misalnya Rasulullah saw menganjurkan melakukan hubungan suami-isteri:
1. Pada malam Kamis, karena jika membuahkan anak dapat menyebabkan ia menjadi ahli orang yang ‘alim.
2. Pada malam Jum’at. Karena jika membuahkan janin dapat menyebabkan ia kelak menjadi orang yang orator.
3. Pada hari Jum’at bakdah Ashar. Karena (bila dikaruniai anak) dapat menyebabkan ia menjadi orang yang mudah terkenal dan termasyhur dan ‘alim.
4. Pada malam Jum’at bakdah ‘Isya’. Jika membuahkan keturunan dapat menyebabkan ia kelak menjadi generasi yang saleh, yang meneruskan orang tuanya.

http://www.tokoku99.com/product-islami/e-book.html

Sumber dari Syamsuri Rifai Thursday, November 5, 2009

Doa Cinta Sejati

Bagi yang mengharapkan cinta yang sejati, kehabahagiaan dan kedamaian hati, bacalah doa ini secara istiqamah:
بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صل على محمد وآل محمد

Bismillâhir Rahmânir Rahîm
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

اَللَّهُمَّ اِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ كُلِّ عَمَلٍ يُوْصِلُنِي اِلَى قُرْبِكَ، وَاَنْ تَجْعَلَكَ أَحَبَّ اِلَيَّ مِمَّاسِوَاكَ، وَاَنْ تَجْعَلَ حُبِّي إِيَّاكَ قَائِدًا اِلَى رِضْوَانِكَ، وَشَوْقِي اِلَيْكَ ذَآئِدًا عَنْ عِصْيَانِكَ، وَامْنُنْ بِالنَّظَرِ اِلَيْكَ عَلَيَّ، وَانْظُرْ بِعَيْنِ الْوُدِّ وَالْعَطْفِ إِلَيَّ، وَلاَتَصْرِفْ عَنِّي وَجْهَكَ، وَاجْعَلْنِي مِنْ اَهْلِ اْلإِسْعَادِ وَالْخُظْوَةِ عِنْدَكَ يَامُجِيْبُ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allâhumma innî as-aluka hubbaka wa hubba man yu-hibbuk, wa hubba kulli ‘amalin yûshi-lunî ilâ qurbik, wa an taj’alaka ahab-ba ilayya mimâ siwâk, wa an taj’ala hubbî iyyâka qâidan ilâ ridhwânik, wa syawqî ilayka dzâidzan ‘an ‘ishyânik, wamnun binna-zhari ilayka ‘alayya, wanzhur bi’aynil wuddi wal 'athfi ilayy, walâ tashrif ‘annî wajhak, waj’al-nî min ahlil is’âdi wal khuzhwati ‘indaka yâ Mujîbu yâ Arhamar râ-himîn.

Aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang membawaku ke samping-Mu. Jadikan Engkau lebih aku cintai daripada selain-Mu. Jadikan cintaku pada-Mu membimbingku pada ridha-Mu. Jadikan kerinduanku pada-Mu mencegahku dari maksiat atas-Mu. Anugerahkan padaku memandang-Mu.Tataplah diriku dengan tatapan kasih sayang. Jangan palingkan wajah-Mu dariku. Jadikan aku di antara penerima anugerah dan karunia-Mu wahai Pemberi Ijabah ya Arhamar rahimin.
(Mafâtihul Jinân, bab 1: 125)

Sumber by Syamsuri Rifai Friday, November 13, 2009

Saturday, November 14, 2009

ABU HANIFAH DAN BEHLUL (BAHLUL?)

Abu Hanifah percaya manusia tidak melakukan perbuatan menurut kuasa dan kehendaknya. Biarpun telah disebutkan tadi mengenai perbualannya dengan al-Imam Musa al-Kazim (‘a.s) yang jelas menepati logik akal, dia masih tidak mahu mengubah kepercayaannya.

Pada suatu ketika, pendapatnya itu telah menyebabkan berlakunya suatu tragedi.

Behlul bermaksud pintar dan pemimpin. Ia adalah nama kepada seorang sahabat al-Imam Ja‘far al-Sadiq (‘a.s) yang terkenal yang hidup sehingga zaman al-Imam ‘Ali al-Naqi (‘a.s) dan sempat melihat al-Imam Hasan al-‘Askari (‘a.s).

Berdasarkan perubahan nasib, biasanya beliau dirujukkan sebagai Behlul Majnun (Behlul yang gila). Ini kerana beliau berpura-pura menjadi gila untuk menyelamatkan nyawanya dari tugas-tugas penghakiman yang ditawarkan kepadanya oleh Khalifah Harun al-Rasyid.

Namun begitu dengan “ kepintarannya ” itu, dia mengambil kesempatan daripada perangai kegilagilaannya dengan selalu menentang tokoh-tokoh besar pada zamannya (termasuklah raja-raja) menerusi kelemahan-kelemahan mereka sendiri.

Pada suatu ketika, dia terdengar Abu Hanifah (yang tinggal di Kufah, Iraq) memberitahu para pengikutnya: “Saya mendengar tiga (3) perkara daripada al-Imam Ja‘far al-Sadiq (‘a.s) yang menurut pendapat saya adalah salah. Para pengikutnya itu lalu bertanya mengenai perkara-perkara tersebut. Abu Hanifah pun berkata:


“Pertama sekali, al-Imam Ja‘far al-Sadiq (‘a.s) mengatakan Allah (s.w.t) tidak boleh dilihat. Tetapi itu tidak benar. Seandainya sesuatu itu wujud, ia mestilah boleh
dilihat.”

“Kedua, beliau mengatakan syaitan akan disiksa dalam api neraka, tetapi hal itu mustahil berlaku kerana syaitan dijadikan daripada api. Bagaimanakah api boleh
memudaratkan sesuatu atau seseorang yang juga dijadikan daripada api?”

“Ketiga, beliau mengatakan perbuatan manusia dilakukan dengan kehendak dan kekuasaannya, dan manusia bertanggungjawab ke atasnya. Tetapi perkara itu
tidak tepat kerana semua perbuatan manusia dilakukan dengan kehendak dan kekuasaan Allah, dan Allah yang sebenarnya bertanggungjawab ke atas perbuatan tersebut.”

Pada ketika para pengikutnya baru hendak memujinya, Behlul mengambil segumpal tanah dan melontarkannya tepat ke arah Abu Hanifah. Gumpalan tanah itu tepat mengenai dahinya, lantas dia menjerit kesakitan. Para pengikutnya menangkap Behlul lalu Abu
Hanifah membawanya menemui Qadi.

Qadi mendengar aduan itu dan bertanyakan kepada Behlul sama ada tuduhan tersebut benar atau sebaliknya.

Behlul: “Wahai Qadi! Abu Hanifah mengatakan dia mengalami sakit yang kuat di kepalanya kerana terkena lontaran gumpalan tanah. Tetapi saya berpendapat, dia
berdusta. Saya tidak percaya kepadanya sehinggalah saya melihat “ sakit ” itu sendiri.”

Abu Hanifah: “Kamu benar-benar gila. Bagaimanakah aku dapat menunjukkan “ sakit ”
kepadamu? Adakah sesiapa yang pernah melihat “sakit”?”

Behlul: “Tetapi wahai Qadi! Tadi dia baru sahaja mengajarkan para pengikutnya, seandainya sesuatu itu memang wujud, ia mestilah boleh dilihat. Oleh kerana dia
tidak boleh memperlihatkan “sakit” itu, saya anggap berdasarkan kepercayaannya sendiri, dia tidak sakit sama sekali.”

Abu Hanifah: “Oh, sakitnya kepalaku!”

Behlul: “ Wahai Qadi, ada satu perkara lagi yang saya teringat. Dia juga memberitahu para pengikutnya oleh kerana syaitan dijadikan daripada api, maka api neraka
tidak boleh memudaratkannya. Sekarang, manusia dijadikan daripada tanah seperti yang dinyatakan oleh al-Qur’an, sedangkan gumpalan tanah jugalah yang mengenainya. Saya hairan bagaimana dia boleh mendakwa gumpalan tanah itu boleh memudaratkan manusia yang juga dijadikan daripada gumpalan tanah?”

Abu Hanifah: “Wahai Qadi, Behlul ingin melepaskan dirinya dengan omong-omongnya itu. Tolonglah balaskan dendamku kepadanya.”

Behlul: “Wahai Qadi, saya fikir Abu Hanifah ternyata salah membawa saya ke mahkamah ini. Dia baru saja memberitahu segala perbuatan manusia adalah dilakukan oleh Allah dan Allahlah yang bertanggungjawab ke atas perbuatan-perbuatan mereka. Sekarang, kenapakah dia membawa saya ke sini? Seandainya dia benar-benar sakit akibat terkena gumpalan tanah itu (yang saya sendiri cukup meraguinya berdasarkan hujah-hujah yang telah dijelaskan), dia sepatutnya mendakwa Allahlah yang mencederakannya dengan melontar gumpalan tanah itu.

"Kenapakah manusia yang tidak berdaya seperti saya dibawa ke mahkamah sedangkan semua perbuatan yang saya lakukan itu sebenarnya dilakukan oleh Allah?”

Qadi pun membebaskan Behlul.

Rujukan: http://almawaddah.hostei.com/

My Blog List

Followers

Follow Us on Facebook

From Where?

widgeo

Star


c

Visitors Map

Visitors Map